SOAL:
1.
Sebut jelaskan 6 unsur intrinsik drama !
2.
Sebutkan 1 unsur ekstrinsik drama !
3.
Sebutkan 3 macam drama misteri !
4.
Sebutkan 3 fungsi drama tradisional !
5.
Sebutkan 3 macam drama tradisional !
6. Sebutkan 5 judul drama tradisional !
7. Sebutkan inti cerita dari drama yang kamu sebutkan tadi !
JAWABAN:
1. -Tema.
Tema adalah pikiran pokok yang mendasari
lakon drama
- Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin
disampaikan penulis kepada pembaca naskah atau penonton drama.
-
Perwatakan/Karakter Tokoh
Perwatakan atau karakter tokoh
adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama.
-
Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah
tersebut berbentuk percakapan atau dialog
-Alur/Plot
Alur/plot cerita atau jalan
cerita.
Dalam drama juga mengenal tahapan plot yang dimulai dari tahapan
permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, tahapan puncak, tahapan
peleraian, dan tahapan akhir.
-Latar/Setting
Latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang
diceritakan dalam sebuah drama
-Bahasa
Setiap penulis drama mempunyai gaya
sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan
dengan pemilihan gaya bahasa (style).
-Interpretasi
Penulis naskah drama selalu memanfaatkan
kehidupan masyarakat sebagai sumber gagasan dalam menulis naskah drama
2. - Faktor ekonomi,
- Faktor politik
- Faktor sosial- budaya
- Faktor pendidikan
- Faktor kesehatan
- Faktor psikologis pemain dan kru
- Kebijakan pemerintah, dan lain sebagainya.
- Faktor politik
- Faktor sosial- budaya
- Faktor pendidikan
- Faktor kesehatan
- Faktor psikologis pemain dan kru
- Kebijakan pemerintah, dan lain sebagainya.
3. mistis, horror, kriminal
4. -Pemanggil kekuatan gaib
-Menjemput roh-roh pelindung untuk hadir ditempat terselenggaranya pertunjukan
-Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat.
-Peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawanannya.
-Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup
seseorang seperti keberhasilan menempati suatu kedudukan, jabatan
kemasyarakatan, Jadi kepala suku atau adat.
-Pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu. Upacara kelahiran, kedewasaan dan kematian.
-Sebagai media hiburan. Fungsi hiburan ini yang lebih menonjol di kalangan teater rakyat.
5. >> Drama Wayang >> Mamanda
>> Drama Gong >> Ketoprak
>> Ludruk >> Ubrug
>> Lenong >> Randai
6. - keong mas -lutung kasarung
- timun mas -cindelaras
- sangkuriang -anoman obong
- malinkundang -danau toba
- bawang merah bawang putih
7. >timun mas:
Timun Mas adalah nama seorang anak yang lahir dari sebuah timun emas
besar yang dirawat oleh seorang janda tua. Tapi nasib malang menimpa
antara janda tua dan timun emas tersebut, keselamatan timun emas
terancam karena ada seorang raksasa yang sangat ingin memakannya. Selain
itu memang ibu timun emas yakni janda tua tersebut telah terlibat
perjanjian dengan raksasa yang telah memberinya biji timun yang akhirnya
memberinya seorang anak. Namun karena terlanjur sayang pada timun emas,
janda tua tersebut tidak kuasa merelakan Timun Mas untuk dimakan oleh
raksasa.
Suatu hari raksasa itu sudah tidak sabar dan terus menagih janji pada ibu timun emas, dengan keberaniannya sang ibu menolak permintaan raksasa, namun kemudian raksasa tersebut malah mengejar Timun Mas sampai mereka lari ke hutan. Melalui petunjuk seorang petapa, Timun Mas melemparkan kantong berisi mentimun, seketika hutan berubah menjadi ditumbuhi pohon timun yang lebat. Namun raksasa masih bisa mengejar Timun Mas, kemudian Timun Mas kembali melempar kantong berisi jarum sehingga hutan seketika berubah menjadi ditumbuhi banyak pohon bambu yang mampu melukai kakinya.
Tapi ternyata ini juga tidak cukup mampu membuatnya jera. Raksasa masih mengejar Timun Mas, dan kemudian ia kembali melempari raksasa tersebut dengan sebuah kantong berisi garam yang seketika dengan ajaib mengubah hutan menjadi lautan, ternyata keadaan inipun tidak cukup mampu membuatnya kalah. Terakhir Timun Mas melemparkan terasi yang kemudian mengubah hutan menjadi lautan lumpur yang panas sehingga raksasa tenggelam dan mati di dalamnya. Cerita rakyat Timun Mas ini menunjukkan kasih sayang seorang ibu yang tidak mungkin rela membiarkan anaknya kesakitan atau menderita.
Suatu hari raksasa itu sudah tidak sabar dan terus menagih janji pada ibu timun emas, dengan keberaniannya sang ibu menolak permintaan raksasa, namun kemudian raksasa tersebut malah mengejar Timun Mas sampai mereka lari ke hutan. Melalui petunjuk seorang petapa, Timun Mas melemparkan kantong berisi mentimun, seketika hutan berubah menjadi ditumbuhi pohon timun yang lebat. Namun raksasa masih bisa mengejar Timun Mas, kemudian Timun Mas kembali melempar kantong berisi jarum sehingga hutan seketika berubah menjadi ditumbuhi banyak pohon bambu yang mampu melukai kakinya.
Tapi ternyata ini juga tidak cukup mampu membuatnya jera. Raksasa masih mengejar Timun Mas, dan kemudian ia kembali melempari raksasa tersebut dengan sebuah kantong berisi garam yang seketika dengan ajaib mengubah hutan menjadi lautan, ternyata keadaan inipun tidak cukup mampu membuatnya kalah. Terakhir Timun Mas melemparkan terasi yang kemudian mengubah hutan menjadi lautan lumpur yang panas sehingga raksasa tenggelam dan mati di dalamnya. Cerita rakyat Timun Mas ini menunjukkan kasih sayang seorang ibu yang tidak mungkin rela membiarkan anaknya kesakitan atau menderita.
berasal dari jawa tengah.
>keong mas:
Dahulu kala hiduplah keluarga yang yang beranggotakan empat orang,
Jayanegara, Liku, serta 2 orang anaknya yang bernama Dewi Candra dan
Galuh Ajeng. Kakak beradik tersebut memiliki sifat yang sangat bertolak
belakang.Suatu ketika, Jaya dan anaknya yang bernama Inu
Kertapati mengunjungi rumah Jayanegara untuk bersilaturrahmi. Jaya
bermaksud untuk menjodohkan Inu dengan salah satu putri Jayanegara.
Tetapi Inu masih bingung dan dia membutuhkan waktu 5 tahun untuk memilih
antara Dewi dan Ajeng untuk dijadikan calon istrinya. Sebelum Inu
pulang, ia memberikan 2 hadiah untuk mereka. Ajeng memilih kado yang
besar dan Dewi mendapat sisanya. Setelah menerima hadiah, Ajeng tidak
terima karena hanya mendapat sebuah cincin. Sedangkan Dewi mandapat
perhiasan berlian. Karena tidak terima, Ajeng meminta hadiah Dewi yang
diberikan Inu.Lima tahun telah berlalu, Inu kembali mengunjungi rumah
Jayanegara untuk memutuskan pilihan antara Dewi atau Ajeng yang akan
menjadi calon istrinya. Ketika dia sampai di rumah Jayanegara, dia
terkejut karena Dewi hanya memakai cincin, sedangkan Ajeng memakai
perhiasan yang seharusnya dipakai Dewi. Sejak itu, Inu menjadi tahu
sifat asli antara Dewi dan Ajeng. Dan Inu lebih memilih Dewi daripada
Ajeng untuk menjadi calon istrinya.Karena tidak terima, Ajeng dan ibunya
pergi ke tempat mbah dukun di Gunung Demit untuk menyihir Dewi menjadi
keong. Pada saat yang telah ditentukan, Ajeng mengajak Dewi ke sungai
untuk menyihir menjadi keong. Dan Ajeng berhasil menyihir Dewi. Ketika
sampai di rumah, Ajeng bilang kalau Dewi hilang saat jalan-jalan.Ketika
mendengar bahwa Dewi hilang, Inu segera mancari Dewi. Dewi ditemukan
seorang janda tua yang tinggal di desa Dadakan. Ketika Inu tertidur, dia
mendapat petunjuk kalau Dewi berada tidak jauh dari tempat dia
mencari.Ketika Inu berjalan, dia melihat seorang nenek yang tengah
diserang buaya. Dengan segera dia menolong nenek tadi. Kemudian nenek
tadi mengajak Inu ke rumahnya. Inu lalu menceritakan tujuan dia ke desa
Dadakan. Dan akhirnya nenek tadi mengambil keong mas dan menceritakan
bahwa keong tersebut adalah Dewi Candra.Setelah itu Inu mengajak
Dewi pulang ke rumah. Sampailah mereka di rumah, Ajeng dan Liku
terkejut. Mereka tidak menyangka Dewi dapat menjadi manusia lagi.
Sesegera mungkin Ajeng dan Liku kabur dari rumah. Mereka takut rahasia
yang selama ini mereka simpan terbongkar. Tiba-tiba wajah mereka jadi
jelek, mereka tidak sadar dan saling menyakiti. Ajeng serta Liku
akhirnya meninggal.
berasal dari jawa tengah.
>bawah merah bawang putih
Bawang Merah dan Bawang Putih
Pada zaman dahulu,
di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga itu mempunyai
anak yang cantik bernama Bawang Putih. Kehidupan bahagia itu terganggu saat ibu
Bawang Putih sakit keras dan pada akhirnya meninggal dunia. Bawang Putih sangat
berduka, demikianlah juga ayahnya. Sekarang Bawang Putih hanya tinggal berdua
bersama ayahnya. Di desa itu, hiduplah seorang janda yang mempunyai anak
bernama Bawang Merah. Sejak ibu Bawang Putih meninggal, ibu Bawang Merah kerap berkunjung
ke tempat tinggal Bawang Putih. Dia kerap membawakan makanan, menolong Bawang
Putih membereskan tempat tinggal atau cuma menemani Bawang Putih serta ayahnya
mengobrol. Akhirnya, sang janda itu menikah dengan ayah Bawang Putih. Kehidupan
Bawang Putih tidak sepi lagi. Dia mendapat ibu baru sekaligus saudara
perempuan, yaitu Bawang Merah. Pada awalnya, sang ibu tiri dan saudara tiri itu
amat baik pada Bawang Putih, tetapi lama-kelamaan karakter asli mereka mulai
terlihat. Mereka sering memarahi Bawang Putih serta memberinya pekerjaan berat
bila ayah mereka pergi berdagang. Sudah pasti sang ayah tidak mengetahuinya
karena Bawang Putih tidak pernah mengadukan tingkah ibu dan saudara tirinya
itu. Suatu hari, ayah Bawang Putih sakit
keras dan kemudian meninggal. Tinggallah Bawang Putih bersama ibu dan saudara
tirinya. Hari demi hari Bawang Putih disiksa oleh Bawang Merah dan ibunya.
Namun, Bawang Putih menerima kehidupan itu dengan tabah. Suatu hari, Bawang
Putih mencuci baju ibu dan saudaranya di sungai. Ada satu baju yang terhanyut,
Bawang Putih pun mengejar baju itu. Sampailah dia di sebuah rumah yang dihuni
seorang nenek yang berada di tepi sungai. Nenek itu menyimpan baju Bawang Putih
yang hanyut. Dia mau menyerahkan baju itu jika Bawang Putih mau membantunya
membersihkan rumah. Bawang Putih pun segera membantu nenek membersihkan rumah.
Nenek itu terkesan dengan ketekunan Bawang Putih melakukan tugasnya
membersihkan rumah. Setelah selesai, Bawang Putih berpamit pada sang nenek.
Baju itu pun diserahkan nenek kepada Bawang Putih. Nenek itu juga memberi
bungkusan hadiah untuk Bawang Putih karena telah bekerja membersihkan rumah
nenek. Bungkusan itu tidak boleh dibuka jika belum sampai rumah. Dengan
bergegas, Bawang Putih kembali ke rumah. Sesampai di rumah dia ceritakan
pengalamannya dan dibukanya bungkusan yang diberikan nenek. Ternyata di dalam
bungkusan itu terdapat emas yang berkilauan banyak sekali. Bawang Merah merasa
iri akan keberuntungan Bawang Putih.
Keesokan harinya, karena rasa iri hati yang sangat, Bawang Merah
melakukan hal yang sama dengan peristiwa yang dialami Bawang Putih. Dia
menghanyutkan bajunya di sungai dan mengikutinya sampai ia berada di depan
rumah nenek. Bawang Merah bertanya apakah nenek melihat baju hanyut di sungai.
Nenek pun menjawab bahwa baju itu dia simpan. Baju itu akan diberikan kepada
Bawang Merah asal Bawang Merah mau membantu membersihkan rumah. Bawang Merah
menolak membersihkan rumah dan tetap meminta baju itu. Sang nenek memberikan
baju dan sebuah bungkus-an yang bentuknya sama dengan bungkusan yang diberikan
kepada Bawang Putih. Dengan berlari riang Bawang Merah kembali ke rumah dan
ingin segera membuka bungkusan dari nenek. Setelah sampai di rumah, Bawang
Merah berteriak memanggil ibunya. Ibu dan anak itu segera membuka bungkusan.
Namun, di dalam bungkusan itu bukan emas berkilau, tetapi ular yang mengejar
ibu tiri dan Bawang Merah yang berlari pergi dari rumah Bawang Putih, pergi
dari desa tempat Bawang Putih tinggal.
berasal dari riau.
>sangkuriang
Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang
berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke
bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng)
bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing
bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan
bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi
dewa-dewi kembali.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di
tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring
(keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja
tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng
Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa
sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil
dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah
seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja
yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa
ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.
Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para
raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada
yang diterima.
Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.
Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.
Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
berasal dari jawa barat.
Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.
Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.
Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
berasal dari jawa barat.
>malinkundang
Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga kecil di wilayah Sumatra
Barat. Sang ayah pergi melaut untuk mencari nafkah. Ibu dan sang anak
tinggal di gubug. Sang anak bernama Malin. Ayah Malin tidak kunjung
pulang sehingga Ibu harus tutur mencari nafkah. Malin adalah anak yang
pandai, mseki ia sedikit nakal. Ia senang mengejar ayam dan memukul ayam
itu dengan sapu. Hingga pada suatu ketika ia jatuh ketika mengejear
ayam dan terdapat luka di lengannya yang tidak bisa hilang.
Ketika dewasa, Malin merasa sedih melihat ibuya bekerja keras. Ia merasa
kasihan dan akhirnya memutuskan untuk mencari nafkah ke negeri seberang
dan berharap menjadi orang kaya raya. Kemudian, ia mengikuti seorang
nakhoda kapal untuk pergi berlayar. Meski awalnya tidak setuju, ibu
Malin mengizinkan Malin pergi merantau dengan berat hati. Sang ibu
mengatar Malin dengan linangan air mata. Ibu berpesan agar Malin tidak
melupakannya apabila ia sudah jadi orang kaya raya.
Malin pergi berlayar dan ia banyak belajar serta mendapatkan pengalaman.
Di tengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Malin dirampok sekawanan
bajak laut dan awak kapal lain dibunuh. Beruntungnya Malin bisa selamat
karena ia bersembunyi di ruang kecil yang tertutp kayu. Malin
terkatung-katung ditengah lautan hingga ia terdampar di sebuah pantai.
Malin berjalan ke dalam pulau tersebut dan menemukan ada desa di sana.
Ia meminta pertolongan warga desa tersebut. Akhirnya Malin tinggal di
desa yang subur. Di sana, Malin bekerja dengan giat hingga ia menjadi
kaya raya. Karena ia sudah menjadi kaya raya, Malinpun menikahi gadis di
desa itu.
Cerita tentang kesuksesan dan pernikahan Malin terdengar oleh ibunya di
kampong halaman. Sang ibu merasa bahagia dan bersyukur karena anaknya
sudah sukses. Ibu Malin pun setia menunggu kepulangan anaknya di dermaga
setiap hari. Ia berharap anaknya pulang ke kampong halaman dan bertemu
dengannya.
Beberapa lama kemudian setelah ia menikah, Malin dan istrinya melakukan
perjalanan dengan kapal pesiar. Saat itu, ibu Malin melihat kapal yang
indah itu dari dermaga. Sang ibu melihatada dua orang di kapal tersbeut
dan ia yakin jika itu adalah Malin dan istrinya. Ketika turun dari
kapal, sang ibu menyambut Malin. Ia melihat bekas luka di lengan Malin
sehingga ia yakin betul bahwa itu adalah anaknya Malin yang sudah
beberapa lama pergi merantau. Sang ibu lalu memeluk Malin. Namun, Malin
malah melepaskan pelkan itu dan mendorong sang ibu sampai jatuh.
Malin memaki sang ibu dan mengelarkan kata-kata yang melukai hati
ibunya. Bahkan ketika istrinya bertanya apakah benar itu ibunya, Malin
pun tidak mengakuinya. Ia mengatakan bahwa orang itu hanyalah pengemis
yang mengaku-mengaku sebagai ibunya demi mendapatkan harta nya.
Mendengar hal tersebut, ibu Malin murka. Ia merasa diperlakukan
semena-mena oleh anaknya. Ia terkejut bahwa anaknya kini menjadi
durhaka. Dengan amarah, ibu Malin berdoa kepada Tuhan untu mengutuk pria
itu menjadi batu jika benar ia adalah anaknya, Malin Kundang. Seleang
beberapa menit, terdengar suara gemuruh angin kencang dan badai yang
menghancurkan kapal Malin. Pelahan-lahan tubuh Malin menjadi kaku dan
membentuk batu.
berasal dari sumbar.

Nilai 100
BalasHapushttps://pemainayam.net/jenis-pukulan-ayam-aduan-mematikan-di-bagian-kepala/
BalasHapusSebagai pecinta Ayam Aduan, pengetahuan tentang Jenis Pukulan Ayam Aduan Mematikan Di Bagian Kepala pastinya merupakan hal yang sangat penting.